Minggu, 01 November 2015

SEJARAH DAN LEGENDA BATAK I

BATAK , ANTARA SEJARAH DAN LEGENDA.

Batak (jaman dahulu kala) mempercayai adanya penciptaan langit, bumi dan segala isinya. Pencipta tersebut adalah Debata Mulajadi Nabolon.

Tetapi khusus untuk penciptaan manusia, sangatlah jauh berbeda. Menurut legenda Batak, manusia bermula setelah perkawinan antara si Borudeakparujar (salah satu dari 6 anak perempuan Bataraguru ) dengan Raja Odapodap, mereka dijodohkan oleh Debata Mulajadi Nabolon sewaktu mereka masih berdiam di Banua Ginjang/Surga (langit papituhon ).
Karena itulah dahulu ada “umpama Batak “ : Timus gabe ombun, ombun jumadi udan, mula ni tano dohot jolma ima sian si Borudeakparujar.


Dalam kepercayaan Batak, langit terdiri dari 7 lapis yaitu :

  1. Langit Pertama, adalah tempat hukuman roh orang yang semasa hidupnya selalu melakukan hal-hal yang terbalik dari aturan ( suhar pambaenan )
  2. Langit Kedua, adalah tempat hukuman roh orang yang semasa hidupnya selalu mencuri, merampok.
  3. Langit Ketiga, adalah tempat hukuman roh orang yang semasa hidupnya selalu panjang lidah, suka membicarakan orang lain ( siganjang dila ).
  4. Langit Keempat, adalah tempat hukuman roh orang yang semasa hidupnya memfitnah, lintah darat. Di sini juga tempat hukuman roh orang yang bunuh diri.
  5. Langit Kelima, adalah tempat roh orang yang semasa hidupnya suka menolong orang yang tidak punya ( dermawan ).
  6. Langit Keenam, adalah tempat pertimbangn/ putusan Bataraguru terhadap manusia yang akan lahir. Menurut leluhur Batak, manusia yang mau lahir ke dunia akan meminta dan bertanya lebih dahulu kepada Bataraguru bagaimana hidupnya nanti setelah lahir.( Dolok Martimbang hatubuan ni horahora, Debata na di ginjang suhat-suhat ni hita jolma ).
  7. Langit Ketujuh, adalah tempat roh orang yang semasa hidupnya baik, suci/percaya, tempat Mulajadi Nabolon, dan inilah surga.

Setelah perkawinan si Borudeakparujar dengan Raja Odapodap, lahirlah anaknya kembar dampit 
( marporhas ). Laki-laki dinamai RAJA IHAT MANISIA dan yang perempuan dinamai BORU ITAM MANISIA. Mereka bertempat tinggal di SIANJUR MULAMULA.
Pada saat penghuni langit ( Banua Ginjang ) dating mengunjungi mereka, Si Borudeak parujar dan Raja Odapodap ikut naik ke langit (Banua Ginjang ), tetapi Debata Asiasi dan si Boru Naraja Inggot paung tinggal bersama Raja Ihatmanisia dan si Boru Itammanisia di Sianjurmulamula.

Setelah besar, Raja Ihatmanisia kawin, tetapi tidak jelas siapa dan darimana istrinya, apakah kembarannya atau anaknya si Boru Naraja Inggotpaung, jang jelas mereka mempunyai anak 3 orang yaitu :
  1. Raja Miokmiok, 
  2. Patundal nabegu dan 
  3. Aji lampas lampas. (Aji Lapaslapas)
Karena perebutan harta dan selisih paham, ketiga bersaudara itu bertengkar, akhirnya si Patundal nabegu dan Ajilampaslampas meninggalkan Sianjurmulamula, tidak diketahui kemana perginya.

Inilah permulaan Sejarah Batak yang merupakan keturunan dari Raja Ihatmanisia.
Kalau Raja Ihatmanisia sebagai manusia pertama dalam sejarah dan legenda Batak, lantas bahagai mana hubungannya dengan si RAJA BATAK?
Menurut Legenda (mungkin juga Sejarah ) antara RAJA IHATMANISIA dengan si RAJA BATAK terdapat 5 generasi. Jelasnya anak Raja Ihatmanisia seperti diterangkan pada bagian Pertama ada 3 orang, yaitu Raja Miokmiok, Patundal Nabegu dan Ajilampaslampas (sebagian mengatakan Aji Lapaslapas). Setelah perpisahan ketiga bersudara itu kawin (tidak diketahui dengan siapa ) dan mempunyai anak ENGBANUA.

Anak Engbanua ada 3 orang yaitu :
  1. Raja Ujung, 
  2. Eng Domia (Raja Bonangbonang) dan 
  3. Raja Jau.
Konon, Raja Ujung adalah leluhur orang Aceh, Raja Jau adalah leluhur orang Nias, sedangkan Eng Domia adalah leluhur orang Batak, artinya menurut legenda ini maka orang ACEH adalah saudara tua (abang ) orang BATAK dan orang NIAS adalah adik orang Batak, tetapi ada juga pendapat bahwa leluhur orang Nias adalah RAJA ISUMBAON (anaknya si Raja Batak ).

Raja Bonangbonang mempunyai seorang anak yang dinamai RAJA TANTANDEBATA. Dari perkawinan Raja Tantandebata dengan istrinya si boru Basoburning, lahirlah si RAJA BATAK.
Si Raja Batak kawin dengan putri dari SIAM, sebagian mengatakan kawin dengan manusia jadi-jadian, tetapi kalau kita berpijak pada sejarah ada benarnya bahwa istri si Raja Batak berasal dari Siam (Benua Asia Kecil ).

Anak si Raja Batak ada 2 orang, yaitu:
  1. GURU TATEABULAN dan 
  2. RAJA ISUMBAON.  
Guru Tateabulan sering juga disebut dengan ILONTUNGAN alias si MANGARATA, alias TOGA DATU.
Semasa remaja, Guru Tateabulan mendapat warisan benda-benda pusaka pemberian “tulangnya” dari Siam yaitu berupa :  
  • tombak siringis, 
  • batu martaha dan 
  • cincin yang cocok pada semua jari tangannya.
Guru Tateabulan kawin dengan SIBASOBURNING, yang menurut versi keturunan Borbor Marsada adalah anak gadis manusia primitive yang sudah ada di daerah Sumatera, tetapi sebagian versi mengatakan bahwa Sibasoburning adalah putri jadi-jadian (boru ni homang ), karena kemampuan kesaktiannya, Guru Tateabulan dapat mengajari istrinya menjadi orang beradab. Dari perkawinannya mereka mempunyai 9 orang anak laki-laki dan perempuan. Mereka adalah :  
  1. Raja Biakbiak (Raja Miokmiok), 
  2. Tuan Sariburaja (Ompu Tuan Rajadoli), 
  3. Limbong Mulana, 
  4. Sagala Raja dan 
  5. Silau Raja
sedangkan putrinya adalah :
  1. Siboruparema, 
  2. Siboru Anting Sabungan dan 
  3. Siboru Biding Laut, sedangkan seorang lagi yaitu  
  4. NANTINJO konon adalah Waria (Banci ) pertama dalam Legenda dan Sejarah Batak.
 Menurut cerita, Tuan Sariburaja dan Siborupareme lahir kembar dampit (marporhas).
Raja Isumbaon adalah manusia misterius, tidak ada yang tau cerita dan keberadaannya, tetapi kemudian disebutkan dari perkawinannya lahir 3 orang anaknya yaitu :  
  1. Tuan Sorimangaraja, 
  2. Raja Asiasi dan 
  3. Sangkar Somalidang.
Dari cerita di atas jelas terlihat bahwa marga pertama dalam Silsilah/Tarombo orang Batak adalah marga LIMBONG dan marga SAGALA.
Pertanyaan akan selalu muncul mengikuti logika, Raja Batak mempunyai 2 orang anak, tidak disebutkan mempunyai anak perempuan, pertanyaan yang paling lumrah adalah : Anak Perempuan siapa yang menjadi isteri mereka, kalau memang manusia juga, berarti pada masa itu sudah ada manusia lain selain keluarga si Raja Batak.
Seperti di sebutkan pada Episode II, isteri Guru Tateabulan ada yang mengatakan dari kelompok orang primitive yang sudah ada di sekitar Danau Toba, dan pendapat lain mengatakan keturunan makhluk jadi-jadian (boru ni homang ).

Pertanyaan seperti itu juga muncul pada masa kekinian setelah orang Batak mengenal agama monotheis
( Kristen dan Islam ), pada zaman penciptaan manusia Adam dan Hawa (Eva) yang mempunyai anak Kain, Habel dan Set. (baca Kejadian: 4 dan 5 ), lantas siapa dan anak siapa istri Kain dan Set? Ok, hal itu tidak perlu diperdebatkan karena sudah menyangkut masalah keimanan seseorang.

Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon setelah berkeluarga, meminta hak kepada ayahandanya si Raja Batak, tetapi pada masa itu belum banyak harta benda yang bisa diserahkan si Raja Batak kepada kedua anaknya, dan memang juga bukan harta benda yang mereka minta, tetapi “sangap” dan “kesaktian”. “Berikanlah kepada kami yang belum pernah kami lihat dan yang belum pernah kami ketahui”, kira-kira demikianlah permintaan Guru Tateabulan dan Raja Isumbaon. Si Raja Batak walaupun punya kseaktian, tetapi dia tidak bisa memberikan apa yang diminta anaknya, karena itu dia meminta kepada kedua anaknya agar bersabar dan sama-sama memohon (martonggo ) kepada Mulajadi Nabolon Debata Natolu agar diberikan “ sahala tua sahala harajaon .“

Debata Natolu Mulajadi Nabolon mengabulkan permintaan doa mereka, maka dikirimkanlah 2 (dua) buah gulungan surat Batak.
  • Pada gulungan pertama tulisan arang (tombaga agong ) yang menjadi bagian Guru Tatea Bulan berisi tentang ilmu: Perdukunan/Pengobatan, Kesaktian, Seni pahat , Kekuatan, juga ilmu beladiri (parmonsahon ) dan ilmu menghilang ( pangaliluon ).
  •  Pada gulungan kedua surat tombaga holing berisi tentang ilmu : Pemerintahan, hukum, bercocok tanam dan dagang.

Salah seorang keturunan Guru Tateabulan adalah Raja Biakbiak (Raja Miokmiok ), kelahirannya disertai guruh, hujan lebat dan angin puting beliung, namun setelah lahir alangka kaget dan kecewanya si Guru Tateabulan dan istrinya si boru Basoburning, karena yang lahir tidak sempurna sebagai manusia, tidak punya kaki dan tangan. Dia tidak bisa duduk, hanya bisa berguling-guling, karena itu Raja Biakbiak dinamai juga Raja Gumelenggeleng (guling-guling).

Pada suatu waktu, Mulajadi Nabolon Debata Natolu turun ke bumi (Sianjurmulamula) dan mencobai iman (haporsean ) Guru Tateabulan. Mulajadi Nabolon meminta agar Guru Tateabulan menyerahkan anaknya Sariburaja untuk dipotong dan dipersembahkan. Guru Tateabulan mengatakan, “ Datangnya dari Tuhan (Mulajadi Nabolon Debata Natolu ), kalau Mulajadi Nabolon meminta, saya tidak berhak menolak”. Mendengar itu Raja Biakbiak berpikir bahwa dialah yang akan dipotong/dibunuh, dibandingkan Sariburaja yang sempurna, dia tidak ada harganya, maka dengan tergesa-gesa dia meminta kepada ibunya agar menyuruh ayahandanya menyembunyikan dia. Guru Tateabulanpun menyembunyikan dia di Gunung/Dolok Pusuk Buhit.

Sariburaja jadi dipotong dan dipersembahkan, tetapi karena Guru Tateabulan ikhlas dan Sariburaja tidak menolak menjadi korban persembahan, Mulajadi Nabolon menghidupkan dia kembali serta memberikan berkat (pasu-pasu).

Mulajadi Nabolon datang dan pergi selalu dari puncak Dolok Pusuk Buhit, maka ketika dia mau kembali ke banua ginjang melalui Dolok Pusuk Buhit, dia melihat Raja Biakbiak ada di situ. Raja Biakbiak memohon kepada Mulajadi Nabolon agar disempurnakan, Mulajadi Nabolon pun mengabulkan permohonan Raja Biakbiak, diberi tangan, kaki, bahkan diberi sayap, ekor dan mulutnya seperti (maaf ) moncong babi.
 
Pada saat itu Mulajadi Nabolon berkata : “ Walau bentuk tubuhmu tidak sempurna seperti manusia biasa, tetapi kamu punya keistimewaan, tidak akan pernah tua, tidak akan mati dan kamu akan menjadi perantara manusia yang akan memberikan persembahan kepadaku, kuberi kamu gelar RAJA HATORUSAN atau juga RAJA UTI.”

Dengan kemampuannya Raja Biakbiak/Raja Miokmiok/Raja Gumelenggeleng/ Raja Hatorusan/ Raja Uti dapat pergi kemanapun sesuka hatinya, namun pada awalnya dia pulang ke Sianjurmulamula, kemudian ke Aceh dan ke bagian selatan Tapanuli ( Barus ).

Telah disebutkan di atas bahwa Tuan Sariburaja lahir kembar dampit dengan Siboru Pareme, dikemuadian hari rasa cinta tumbuh diantara keduanya dan merekapun melakukan perkawinan incest (sedarah terlarang), inilah mungkin salah satu peringatan bagi masyarakat Batak sekarang apabila mempunyai anak yang lahir kembar dampit selalu dipisahkan pengasuhannya agar tidak terjadi sebagaimana antara Tuan Sariburaja dengan Siboru Pareme.

Dari perkawinan antara Tuan Sariburaja dengan Siboru Pareme, lahirlah serang anak laki-laki yang kemudian diberi nama SI RAJA LONTUNG. Si Raja Lontung lahir di tengah hutan rimba yang belum pernah didatangi manusia, karena Si Boru Pareme dibuang oleh saudaranya karena malu dengan perbutannya. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa Si Raja Lontung adalah keturunan si Borupareme dengan Babiat Sitelpang yang selalu datang membawa makanan kepada Si Boru Pareme, karena Si Boru Pareme menolong mengambilkan tulang yang tersangkut di mulut harimau itu. Kalau pendapat ini benar, timbul pertanyaan : Mengapa dan apa penyebab Si Boru Pareme berada di tengah-tengah hutan belantara? Karena tidak mempunyai alasan yang kuat, maka pendapat lebih cenderung mengatakan bahwa Si Boru Pareme memang dibuang oleh saudaranya ke hutan belantara ( tombak longo-longo, harangan rimbun rea parhais-haisan ni babiat paranggun-anggunan ni homang).

Tuan Sariburaja adalah orang yang tidak betah berdiam diri di suatu tempat, dia selalu berkelana dari satu daerah ke daerah lain, dan di daerah baru itu beberapa kali dia kawin lagi.
Adalah Nai Mangiringlaut, salah satu istrinya, dikatakan adalah manusia peliharaan lelembut
( homang ), dari perkawinannya dengan Nai Mangiringlaut lahirlah SI RAJA BORBOR. Setelah anaknya lahir Tuan Sariburaja membawa mereka ke suatu tempat di luar Sianjurmula-mula, tempat itu sekarang dikenal dengan PARIK SABUNGAN.

Sampai saat ini masih ada kontroversi diantara keturunan Tuan Sariburaja, siapa yang lebih dahulu lahir antara SI RAJA LONTUNG dan SI RAJA BORBOR. Kalau dalam sejarah dan Tarombo Borbor Marsada, yang lebih duluan lahir adalah si Raja Borbor yang otomatis menjadi siabangan ( sihahaan), konon menurut cerita sewaktu Nai Mangiring Laut mengandung, si Boru Pareme datang menggoda saudaranya Tuan Sariburaja dan terjadilah hubungan terlarang.

Di lain tempat ( di daerah Barus sekarang ), Tuan Sariburaja juga mempunyai isteri yang tidak jelas diketahui asal-usulnya, sebagian mengatakan putri Tamil, sebagian lagi mengatakan keturunan harimau, dari perkawinannya lahir anaknya laki-laki yang dinamai RAJA GALEMAN atau digelari juga dengan SIBABIAT.

Dari cerita di atas jelaslah bahwa keturunan Tuan Sariburaja ada 3 orang yaitu :
  1. LONTUNG,  
  2. BORBOR dan 
  3. SIBABIAT. 
Dari ketiga orang tersebut, dikemudian hari berkembang marga-marga yang sekarang kita kenal dengan kumpulan marga : NAIMARATA, BORBOR MARSADA dan LONTUNG MARSADA.

Telah diterangkan di atas, Guru Tateabulan mempunyai 3 orang anak perempuan, selain Si Boru Pareme yang dua lagi adalah SIBORU ANTING SABUNGAN (Siboru Paromas ) dan SIBORU BIDING LAUT. Kedua wanita ini kawin dengan TUAN SORIMANGARAJA anak dari Raja Isumbaon.
Isteri Raja Isumbaon sendiri ada 3 orang, satu lagi adalah SIBORU SANGGUL HAOMASAN yang belum jelas asal usulnya darimana dan anak siapa.

Pada masa itu, keturunan si RAJA BATAK terbagi atas 2 kelompok,
  • keturunan Guru Tateabulan disebut dengan ILONTUNGON 
  • sedangkan keturunan dari Raja Isumbaon disebut SUMBA.
Dikemudian hari, dari 2 kelompok tadi berkembang menjadi 5 kelompok yang menjadi INDUK MARGA-MARGA BATAK yang ada sekarang, dengan catatan bahwa keturunan dari Raja Asiasi, Sangkarsomalidang, Toga Laut dan keturunan Sariburaja dari isteri ketiga yaitu Raja Galeman (Sibabiat) belum termasuk, karena keturunan mereka tidak jelas keberadaannya dan patut diduga ada di daerah Asahan, Langkat, Karo, Deliserdang, Binjai dan di Aceh ( Tapak Tuan, Takengon dan Kutacane).
 
Salah seorang anak dari Guru Tateabulan ialah NANTINJO yang dikatakan sebagai BANCI/WARIA pertama dalam sejarah dan legenda orang Batak. Orang mengatakan bahwa dia sebenarnya berjenis kelamin laki-laki tetapi pembawaan dan tingkah laku layaknya perempuan sebagaimana waria yang kita kenal sekarang. Guru Tateabulan dan saudara-saudaranya memaksa dia supaya berumah tangga, pada mulanya Nantinjo masih bisa memberi alasan, tetapi kemudian di belakang hari dia tidak bisa lagi mengelak anjuran dan paksaan orang tuanya. Dia masih berusaha untuk menolak dengan meminta “sinamot” sebanyak satu perahu penuh emas, dengan harapan tidak ada yang sanggup memberikannya, ternyata dia keliru. Ada saja orang yang dating melamar dia dengan “sinamot” sebanyak yang dia minta, Nantinjo tidak bisa mengelak, diapun dibawa oleh “suaminya” menyeberangi danau ke tempat mertuanya. Di perjalanan, Nantinjo berpikir bahwa sesampai di tempat mertuanya “dunia” akan geger apabila masyarakat mengetahui cacatnya. Maka dengan putus asa, dia berdoa (martonggo) ke Boru Saniangnaga dan Mulajadi Nabolon Debata Natolu :  
“ O ale ompung Mulajadi Nabolon, Debata Natolu na di Banua Ginjang dohot ho Boru Saniangnaga pangisi ni Banua Toru, ompuompu ni hunik nama au tinuhor sian onan, dang bulung ni dulang dang bulung ni rias, ompu ni hinalungun soada tudosan, napaila damang molo tarboto tihas, tagonanma langge padopado sikkoru, tumagonan ma mate daripada mangolu, buatton ma au begu luahon au sombaon ai sudena on soboi be hutaon. “

Setelah berkata demikian, Nantinjo melompat ke tengah danau dan tenggelam.

Pada saat berangkat dari Sianjurmulamula, dia dibekali dengan alat tenunnya yang selalu dia pakai semasa “gadisnya” bersama “buluhot” (pangunggasan yang terbuat dari bambu), setelah Nantinjo tenggelam, semua peralatan itu mengapung sehingga orang yang menemukan mayat Nantinjo juga menemukan semua peralatan tenun tersebut dan membawanya ke darat. Nantinjo dimakamkan di Malau bersama semua peralatannya, dikemudian hari dari makamnya “buluhot” tersebut tumbuh bambu besar (bulu godang ) yang ada sampai saat ini di Tiga Malau dekat Simanindo, dan tempat tersebut sampai sekarang dianggap sebagai tempat keramat.
 
Telah diterangkan di atas bahwa Raja Isumbaon ada 3 orang yaitu : Tuan Sorimangaraja, Raja Asiasi dan Sangkar Somalidang.
Tuan Sorimangaraja mempunyai 3 orang isteri, 2 orang diantaranya adalah putrid Guru Tateabulan yaitu Siboru Anting Haomasan ( Siboru Paromas ) dan Siboru Biding Laut. (Kalau jaman kekinian tentunya itu terlarang, karena dia mengambil isteri dari putrid Bapatuanya, tetapi pada masa itu karena memang penduduk disekitar danau Toba masih sangat jarang, hal tersebut adalah lumrah).
  • Dari isteri pertama Tuan Sorimangaraja dia mempunyai anak yang dinamai si AMBATON dan dari 
  • isteri kedua juga seorang, dinamai si RASAON.
  • Dari isteri ketiga yang tidak diketahui dari mana asal-usulnya yang bernama Siboru Sanggul Haomasan, Tuan Sorimangaraja mempunyai anak dan diberi nama si SUANON.
bersambung ....................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar